NEWS UJUNG BULU– Menjelang penghujung Oktober 2025, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bulukumba semakin intens melakukan pemantauan harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kestabilan harga dan memastikan ketersediaan pasokan menjelang akhir tahun, periode di mana permintaan biasanya meningkat.
Hasil pemantauan terbaru menunjukkan kabar menggembirakan bagi masyarakat. Sejumlah komoditas pangan utama mengalami penurunan harga, terutama beras dan cabai yang selama ini menjadi indikator utama inflasi di daerah.
Harga Beras dan Cabai Alami Penurunan
Berdasarkan data pemantauan pada Senin, 20 Oktober 2025, harga beras jenis IR 36 Bromo tercatat turun menjadi Rp12.500 per kilogram, dari sebelumnya Rp13.000. Sementara beras Cihera masih stabil di harga Rp11.500, ketan putih di Rp15.000, dan ketan hitam di Rp25.000 per kilogram.
Penurunan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai. Harga cabai besar kini turun menjadi Rp25.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp35.000, sedangkan cabai keriting ikut melandai ke Rp30.000 per kilogram, dari harga semula Rp35.000. Penurunan ini menjadi kabar baik bagi para ibu rumah tangga yang beberapa bulan terakhir harus menghadapi fluktuasi harga cabai yang cukup tajam.
Namun demikian, tidak semua komoditas menunjukkan tren penurunan. Harga wortel justru mengalami kenaikan dari Rp5.000 menjadi Rp8.000 per kilogram, disebabkan oleh menurunnya pasokan dari daerah penghasil akibat cuaca ekstrem beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Bambang Myanto Puji Dukungan Pemkab Bulukumba untuk Pengadilan Negeri
Disperindag: Pemantauan untuk Jaga Stabilitas dan Pasokan
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Kemetrologian Disperindag Bulukumba, Andi Mirza Milanie, mengatakan bahwa pemantauan harga secara rutin merupakan langkah strategis dalam menjaga kestabilan pasar.
“Kami terus melakukan koordinasi dengan para pedagang dan stakeholder lainnya agar harga tetap stabil dan distribusi berjalan lancar,” ujar Andi Mirza pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Menurutnya, turunnya harga sejumlah bahan pokok disebabkan oleh kelancaran distribusi dari daerah penghasil serta kondisi cuaca yang relatif mendukung. Distribusi yang tidak terhambat membuat stok di pasar tetap terjaga, sehingga harga tidak mengalami lonjakan berarti.
Selain melakukan pemantauan, Disperindag juga mengimbau masyarakat agar berbelanja sesuai kebutuhan, terutama menjelang akhir tahun ketika permintaan cenderung meningkat.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap berbelanja secara bijak. Jangan melakukan pembelian berlebihan karena hal itu dapat memengaruhi stabilitas harga di pasar,” tambahnya.
Langkah ini diharapkan dapat membantu mencegah gejolak harga yang kerap terjadi menjelang periode libur panjang dan perayaan akhir tahun.



