News Ujung Bulu– Rahmawati (48) tak pernah membayangkan perjalanan menuju sekolah akan menjadi ancaman bagi kesehatannya. Seorang guru berprestasi yang sebelumnya mengajar di SDN 59 Tanete, Kecamatan Bulukumpa, kini harus menempuh perjalanan lebih dari 40 kilometer setiap hari menuju tempat tugas barunya di SDN 302 Lattae, Desa Tamaona, Kecamatan Kindang.
Jalan rusak yang ia lalui bukan sekadar menyulitkan, tetapi hampir merenggut kesehatannya. “Saya pernah terjatuh karena jalanan rusak dan tulang punggung hampir patah. Tiga bulan saya harus dirawat,” tutur Rahmawati dengan suara bergetar.
Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam. Setiap kali ia harus berangkat subuh demi tiba tepat waktu, rasa cemas tak pernah lepas. “Kalau mau sampai sekolah tepat waktu, saya harus berangkat dari rumah sebelum matahari terbit,” katanya.
Semangat yang Meredup

Baca Juga: Istri Sopir Histeris Grebek Suami Bersama Guru Honorer dalam Mobil Ambulans
Sebelum dimutasi pada Januari 2025, Rahmawati dikenal sebagai guru aktif dan berprestasi. Ia bahkan turut serta dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk PKK Kecamatan Bulukumpa. Namun, setelah perpindahan ke Kindang, motivasinya menurun drastis.
Lebih ironis lagi, di sekolah barunya, Rahmawati mengaku tidak mendapat jam mengajar karena seluruh kelas sudah diisi oleh guru lain. “Saya datang jauh-jauh, tapi tidak dapat jam mengajar. Semangat saya benar-benar jatuh,” ujarnya lirih.
Penderitaan Rahmawati semakin berat karena sang suami, Ramlan Hasan, juga mengalami nasib serupa. Dari penyuluh perikanan di Tanete, ia kini dipindahkan ke kantor Lurah Mariorennu di Kecamatan Gantarang—jarak yang juga puluhan kilometer dari rumah mereka.
“Ini repot dan memiskinkan kami berdua. Tugas kami terpisah di kecamatan yang berbeda dan jaraknya jauh,” keluh Rahmawati.
Sorotan DPRD Bulukumba
Kondisi yang dialami Rahmawati tidak luput dari perhatian legislatif. Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Syahruni Haris, menilai kebijakan mutasi ASN seharusnya memperhatikan aspek kemanusiaan.
“Jangan sampai mutasi justru menurunkan kinerja guru karena faktor kelelahan. Kalau guru lelah, tidak maksimal mengajar, bahkan bisa berdampak pada psikis guru maupun peserta didik,” tegasnya.
Syahruni mengungkapkan, aduan terkait mutasi dengan jarak yang jauh dari domisili tidak hanya datang dari Rahmawati, tetapi juga dari sejumlah guru lain. “Mutasi bukan hanya soal aturan, tapi juga tentang keselamatan, semangat kerja, dan keberlangsungan pendidikan anak-anak,” tambahnya.



