, ,

Polres Bulukumba Latih Ratusan Personel Aksi Unjuk Rasa Secara Realistis

by -239 Views

NEWS UJUNG BULU– Di tengah meningkatnya suhu sosial dan politik menjelang tahun politik 2025–2026, Kepolisian Resor (Polres) Bulukumba memilih untuk tidak bersandar pada rutinitas. Jumat (17/10/2025) pagi, ratusan personel berseragam lengkap memenuhi Lapangan Hitam Mapolres Bulukumba, bukan untuk apel biasa, melainkan untuk satu latihan penting: simulasi penanganan aksi unjuk rasa.

Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak seperti latihan rutin tahunan. Namun bagi jajaran kepolisian di daerah yang dikenal sebagai “Bumi Panrita Lopi” itu, kegiatan ini punya makna lebih dalam — sebuah kesiapsiagaan nyata menghadapi potensi gejolak sosial di tengah dinamika nasional yang terus bergerak.

“Simulasi ini melatih personel agar mampu bertindak cepat, tepat, dan profesional dalam menangani aksi unjuk rasa. Pendekatan humanis tetap menjadi prioritas, namun tindakan tegas juga siap diambil apabila situasi mengharuskan,”
— AKP Marala, Kasi Humas Polres Bulukumba.

Skenario Nyata di Lapangan: Dari Negosiasi hingga Pengendalian

Latihan kali ini disusun dengan skenario realistis. Sebagian personel berperan sebagai pengunjuk rasa dengan membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan, sementara tim pengendali massa membentuk barikade berlapis.

Tahapan simulasi dimulai dengan pendekatan persuasif — negosiasi antara petugas dan perwakilan massa. Ketika situasi memanas, barikade dibentuk dan tim negosiator mundur perlahan, memberi ruang bagi pasukan pengendali massa (Dalmas) untuk bertindak.

Dalam tahap terakhir, aparat dilatih menghadapi skenario paling ekstrem: massa mulai anarkis dan melemparkan benda ke arah petugas. Di titik inilah prinsip “tindakan terukur” diuji. Tidak ada improvisasi berlebihan. Setiap gerak dan komando harus mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) Polri, agar tindakan di lapangan tetap terkendali dan proporsional.

Kesiapsiagaan di Tengah Tahun Politik

Bukan rahasia bahwa menjelang tahun politik, potensi gesekan di akar rumput sering meningkat. Isu sosial, ekonomi, hingga politik lokal bisa dengan cepat memantik demonstrasi. Dalam konteks inilah latihan Polres Bulukumba menjadi barometer keseriusan aparat menjaga stabilitas daerah.

Personel Polres Bulukumba Saling Serang, Simulasi Penanganan Aksi Unras - RADAR SELATAN

Baca Juga: Mahasiswa Singapore Polytechnic Belajar Produksi Teh Cascara di Desa Binaan

Wakapolres Syafaruddin menegaskan, latihan semacam ini adalah bentuk deterrent effect — bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi memastikan bahwa aparat siap mengawal setiap ekspresi publik agar tetap damai dan tertib.

“Kami tidak ingin ada kesalahpahaman di lapangan. Unjuk rasa adalah hak warga, tetapi harus dilakukan dengan tertib dan tidak mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.

Pendekatan Humanis, Tindakan Tegas

Polres Bulukumba menegaskan bahwa strategi pengamanan masa kini tidak lagi sekadar berbasis kekuatan fisik, tetapi juga pendekatan komunikasi dan empati sosial. Karena itu, dalam setiap latihan, aspek komunikasi menjadi bagian utama — bagaimana aparat mendengar aspirasi masyarakat, membaca situasi emosional massa, dan merespons dengan cara yang menenangkan tanpa kehilangan kewibawaan.

Kabag Ops AKP Andi Akbar Munir bersama pelatih teknis Ipda Muhammad Askar memastikan seluruh rangkaian simulasi tidak hanya fokus pada taktik lapangan, tetapi juga pada mental kesiapan personel.

“Latihan ini tidak hanya soal formasi barisan, tapi juga kesiapan psikis. Karena di lapangan, tekanan bisa datang dari berbagai arah. Kami ingin setiap anggota bisa tetap tenang dan rasional,” ungkap Ipda Askar.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.